Surat Anas Dari Pengasingan

Oleh : Bobby Triadi

Ditulisan ini, saya tidak ingin menyamakan atau mensejajarkan Anas Urbaningrum dengan siapa pun. Bagi saya, Anas adalah Anas. Bagi saya Anas adalah sosok muda yang unik, memiliki ciri khas sendiri. Anas selalu menjadi dirinya sendiri dengan style-nya sendiri.

Buktinya, ketika ada pertanyan “Mas Anas kenapa tidak hadir, apa tidak dipanggil SBY?”, spontan Anas menjawab “Saya tidak mau dipanggil SBY, nama Saya Anas”. Yang masih diingat dan masih segar adalah ketika wartawan yang telah sejak pagi menunggunya hadir di KPK bertanya “Cak Anas, kenapa kemaren tidak hadir dipanggil KPK?”, Anas dengan tenang dan penuh guyon menjawab “Saya tidak mau dipanggil KPK, nama Saya Anas”. Jawaban spontan itu berhasil memecah ketegangan dibawah pengawalan ketat Polisi-Polisi bersenjata lengkap.

Hari itu, menjadi hari bersejarah bagi Anas. Hari dimana Anas membuka lembaran barunya untuk hidup dalam pengasingan oleh KPK, yang saya sebut ‘Pengasingan Politik’. Jawaban dari alasan saya menyebut ‘Pengasingan Politik’ ada ditulisan saya dengan judul “Kasus Anas, Murni Hukum atau Murni Politik“.

Kepada sahabat perjuangannya Gede Pasek Suardika, sebelum menuju tempat pengasingan, Anas mengatakan “Tubuh saya boleh dipenjarakan, tapi pemikiran, gagasan dan semangat saya tidak akan bisa dipenjarakan”.

Anas membuktikannya. Kepada sahabat-sahabat pergerakannya Anas mengirimkan secarik kertas berjudul “Surat Perjuangan”, surat yang dituliskannya dari pengasingan. Surat itu kemarin, 17 Januari 2014, dibacakan. Isinya:

“Saat saya mundur dari Partai Demokrat, itu halaman terakhir di Partai Demokrat yang saya cintai. Tapi itu bukan halaman akhir bagi negara ini, masih ada halaman berikutnya. Kita berharap PPI go public jadi milik masyarakat Indonesia. Sejak awal, saya tegaskan bahwa PPI tidak boleh identik dengan Anas dan Anas tidak identik dengan PPI. PPI tidak boleh jadi properti Anas dan keluarga Anas. PPI tidak boleh jadi properti bagi perintis, pendiri, dan penggagasnya. PPI tidak boleh tergantung Anas, nasib PPI bukan nasib Anas. Anas hanya bagian kecil PPI dan kerja-kerja yang harus dilakukan.”

Surat ini tentu bukan sindirian yang ditujukan ke alamat atau ke siapa, ini jelas hasil belajar dari pengalaman masa lalunya di Partai Demokrat. Partai yang pernah dipimpinnya untuk beberapa waktu, lalu dikudeta dengan menggunakan tangan hukum dan memanfaatkan kekuasaan. Intrik-intrik politik kotor, diperaktekkan oleh orang-orang yang mengaku ‘pendukung’ demokrasi.

“Surat Perjuangan” itu dituliskannya sebagai petunjuk, sebagai penguatan pemikiran untuk membangun sebuah organisasi yang moderen, organisasi yang kokoh, organisasi yang dapat bertahan disegala musim dan disegala cuaca.

Tapi, bagi yang berhati panas dan berpikiran galau. “Surat Perjuangan” itu, tentulah dianggap sindiran untuk menyerang.

Namun bagi yang berhati lapang, “Surat Perjuangan” itu adalah vitamin penguat, vitamin harapan. Harapan akan tiba Indonesia yang sesungguhnya, berbudaya dan bermartabat. Indonesia yang menomorsatukan rakyatnya diatas segala-galanya. Salam! (Disalin dari Kompasiana)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s