Perbandingan Jokowi dengan Para Koruptor Top

Dulu bapak saya pernah mengajarkan : antara dua karyawan, yang satu jujur namun bodoh sementara yang satu lagi nakal tapi pintar; lebih beresiko yang mana ? Jawabannya adalah yang bodoh lebih beresiko. Yang nakal memang korupsi, tapi karena pintar, maka dia berusaha membuat bisnis untuk menutupi jumlah yang dikorupsinya dan membuat bisnis tetap berputar. Sementara yang bodoh, kebodohannya tidak menghasilkan bisnis, malah bisa membuat ditipu sampai bisnis bangkrut !

Seperti telah dibahas dalam tulisan sebelumnya, dua kasus mark-up busway TransJakarta dan KJP yang merupakan program Jokowi ditengarai telah menyebabkan kerugian sebesar Rp 826 miliar. Sejumlah Rp 334 miliar telah dibayarkan kepada perusahaan vendor busway abal-abal di ruko butut yang menyodorkan bus rongsokan yang saban hari mogok di jalan-jalan Jakarta. Sementara Rp 492 miliar adalah dana KJP yang ditransfer ke rekening penerima tidak miskin untuk disalah-gunakan dan sebagian lagi masuk ke rekening-rekening fiktif yang menurut ICW menjadi bancakan 3 partai politik.

Dilihat dari sini ini, Jokowi dan Ahok termasuk pimpinan yang sangat bodoh, yang kebodohannya bisa membangkrutkan Jakarta. Jokowi selalu mengaku tak tahu, tak mengerti, tak mengurus. Ahok selalu bilang sudah curiga, sudah menduga, sudah mendengar. Tapi kebocoran demi kebocoran terus terjadi. Kedodoran satu demi satu terus terbongkar. Hari ini KJS. Besok busway. Lusa KJP. Di masa depan entah apa lagi. APBD terus-menerus kebobolan, bahkan melebihi jumlah dugaan korupsi.

Coba kita bandingkan kerugian negara dari program Jokowi dengan kasus korupsi paling wahid yang sudah dihukum, dan pentolan-pentolan koruptor paling top markotop di negeri ini :

Program Jokowi dan Ahok (KJP dan Busway saja) : Rp 826 miliar, terus bertambah karena masih berjalan.

Kasus quota sapi Luthfi Hasan Ishaak : Rp 1,3 miliar.

Kasus Simulator SIM Joko Soesilo : Rp 121,8 miliar.

Kasus apel Washington Angelina Sondakh : Rp 39,6 miliar.

Kasus Imigrasi Mantan Kapolri Rusdihardjo : Rp 15 miliar.

Kasus aliran dana Bank Indonesia 2 politisi Golkar Antony Z. Abidin dan Hamka Yandhu : Rp 21,7 miliar.

Kasus dana Yayasan Bank Indonesia Burhanudin Abdullah : Rp 100 miliar.

Kasus penyelewengan dana taktis Bank Indonesia oleh 4 Direktur BI Aulia Pohan, Aslim Tadjudin, Maman Soemantri dan Bunbunan Hutapea : Rp 28 miliar.

Kasus cek pelawat kepada 41 anggota DPR di antaranya politisi PDIP, Golkar, PBB, PPP dll, menyangkut Miranda Goeltom dan Nunun Nurbaeti, total Rp 21 miliar.

Kalau dibandingkan dengan rekan-rekan sesama Gubernur, angka Rp 826 miliar dari Jokowi-Ahok tetap paling spektakuler.

Kasus pengadaan Damkar mantan Gubernur Riau Saleh Djasit : Rp 15 miliar.

Kasus pengadaan alat berat mantan Gubernur Jabar Danny Setiawan : Rp 185 miliar.

Kasus Bandara Loa Kulu mantan Gubernur Kutai Kartanegara Syaukani : Rp 15,9 miliar.

Kasus penggunaan dana taktis mantan Gubernur Kalsel Sjachriel Darham : Rp 10 miliar.

Kasus pembelian Helicopter Ple Rostov mantan Gubernur NAD Abdullah Puteh : Rp 13,9 miliar.

Total jumlah terpidana koruptor dan orang-orang yang terlibat sebagai bawahan, mediator, pesuruh dll dalam kasus-kasus korupsi di atas melebihi seratus orang. Apabila dijumlah seluruh kerugian negara akibat korupsi tersebut juga hanya sekitar Rp 600 miliar, masih jauh di bawah jumlah kerugian Pemda Jakarta dan negara akibat kebodohan Jokowi-Ahok menyebar duit pajak rakyat DKI Rp 800 miliar lebih…!

Hal ini hanya membuktikan bahwa Jokowi, capres PDIP yang bertampang lugu ini adalah TIGA B  atau TIGA BO : Bohong, Boneka, Bodoh.

Pertama, berBOHONG kepada rakyat DKI bahwa akan amanah 5 tahun di Jakarta dan sungguh2 menjadikan Jakarta Baru, ternyata hanya menjadikan Jakarta sebagai batu loncatan untuk nyapres.

Kedua, terbukti menjadi BONEKA, bukan hanya bagi Megawati untuk mendulang suara bagi PDIP, tapi juga BONEKA dari para koruptor, partai, anggota timses dll yang diberikan kesempatan untuk korupsi seluas2nya bancakan dana APBD melalui proyek2 populis tanpa perencanaan dan kontrol.

Ketiga, BODOH sekali, dalam melakukan pencitraan dan menjalankan proyek2 populis demi nyapres, sangat kedodoran sehingga dalam waktu singkat saja sudah terbongkar. Setelah bus rongsokan yang dimark-up langsung mogok setelah diresmikan, kini ketidak-mampuannya kembali terbongkar oleh ICW.

Apakah Indonesia membutuhkan Presiden yang Bobobo alias Boneka, Bodoh dan Bohong ini…?

GTS69

http://politik.kompasiana.com/2014/04/04/perbandingan-jokowi-dengan-para-koruptor-top-646464.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s