Mengapa Jokowi Menjadi ‘Common Enemy’ Partai-Partai Politik?

JAKARTA (voa-islam.com) – Mengapa Jokowi dan PDIP menjadi ‘common enemy’ partai-partai politik? Tidak lain, karena sikap sombong Jokowi dan PDIP. Merasa Jokowi sudah ‘rating’nya tinggi, melebihi tokoh-tokoh politik yang menjadi calon presiden, lalu si Jokowi yang sudah merasa diatas ‘angin’ itu, sikapnya menghadapi tokoh-tokoh politik, seakan mengatakan, “Memang siapa luh”, dan, “Gua kagak butuh luh, kalau luh butuh gua, ngikut saja”.

Lihat saja, bagaimana komunikasi politik Jokowi dan  elite PDIP sesudah mendapatkan tambahan modal dari NASDEM, PKB, dan Hanura, maka Jokowi dan PDIP memiliki percaya diri luar biasa, dan merasa sudah ‘kun fayakun’ Jokowi pasti akan menjadi presiden di pemilu 2014 ini. Tanpa dukungan partai dan tokoh politik lagi. Sehiggga, tak ada lagi yang tertarik berkomunikasi politik dengan Jokowi dan PDIP.

Tentu, mengharapkan Golkar dan  Demokrat mendukung Jokowi dan PDIP itu, seperti mengharapkan ‘kuda bertanduk’. Karena ada faktor Surya Paloh dan JK yang dipilih Mega dan Jokowi. Sementara, Mega dan SBY sudah tidak ada komunikasi politik, dan sudah saling mendendam. Maka, kemungkinan SBY dan Demokrat yang menggelar konferensi pers hari ini untuk membuat keputusan definitif partai.

Dibagian lain, Rapimnas Demokrat memutuskan tidak mendukung salah satu poros sambil melihat perkembangan yang ada, sampai tanggal 20 Mei untuk mengambil keputusan definitif partai. Tetapi, masih ada kemungkinan SBY dan Demokrat  mendukung Prabowo dan Hatta. Apalagi, Hatta adalah besannya.

Pertemuan Prabowo – Hatta semalam di kediaman ketua umum partai Demokrat, SBY di Cikeas adalah langkah yang sangat positip mendaptkan dukungan Demokrat. Hatta menghargai keputusan rapimnas Demokrat yang tak mendukung salah satu capres. Namun dengan pertemuan ini, Hatta berharap untuk menyamakan visi dan platform dengan partai Demokrat.

Pertemuan yang dihadiri oleh sejumlah perwakilan koalisi Prabowo – Hatta, seperti Suryadahrma Ali (ketum PPP), Cicip Sutarjo (Golkar) dan Zulkifli Hasan (PAN) ikut memberikan keyakinan kepada ketua umum PD untuk bisa bergabung dan membentuk koalisi yang sehat. Mungkin SBY akan mempertimbangkan dengan kehadiran besannya (Hatta Rajasa).

Mengapa Partai-Partai Islam Lari ke Prabowo?

Mengapa tokoh-tokoh umat Islam dan  Partai-partai Islam lari ke Prabowo? Karena, sejak awal sudah ada kekawatiran yang luas dari kalangan tokoh umat Islam dan Partai-Partai Islam terhadap Jokowi yang menjadi capres PDIP. Implikasinya sudah sangat jelas. Jokowi seperti di Solo, meninggalkan Wakil Walikota, FX Hadi Rudyatmo yang katolik. Otomatis sekarang Solo, Walikotanya beragama katolik.

Di Jakarta, Jokowi yang baru satu tahun, sudah lari mengejar ambisinya, menjadi calon presiden PDIP. Majunya Jokowi itu, mempunyai implikasi naiknya Ahok, yang keturunan Cina, dan beragama kristen. Semua akan berdampak luas bagi kehidupan umat Islam di ibukota Jakarta.

Apalagi, Jokowi yang dititah oleh Mega dan PDIP menjadi calon presiden, sudah didahuluhi pertemuan di Singapura antara Mega dengan sejumlah tokoh termasuk Duta Besar Amerika dan Israel. Ini tidak dapat dihindari adanya prasangka dan dugaan, kemungkinan adanya konspirasi antara Mega, Jokowi, PDIP terhadap kepentingan nasional Indonesia di masa depan.

Lebih jelas, pertemuan di rumah konglomerat keturunan Cina Jacob Soetojo, di mana hadir di dalam pertemuan itu, Mega, Jokowi, Sabam Sirait, Duta Besar Amerika, Vatikan, Inggris, Meksiko, Myanmar  dan sejumlah negara lainnya. Ini menjadi kegelisahan yang sangat luas dikalangan umat Islam dan tokoh-tokoh Partai-Partai Islam.

Apalagi, semakin nampak, bagaimana dengan dukungan aktivis katolik, seperti Romo Beny Susetyo, yang terang-terangan mendukung Jokowi, dan menjadi Tim Sukses Jokowi. Romo Benny pula yang membuat tulisan di Kompas tentang ‘Revolusi Mental’ yang akan seakan itu tulisan pribadi Jokowi. Sungguh luar biasa. Segala cara digunakan mengatrol nama Jokowi.

Pilihan Terhadap Jk?

Pilihan terhadap JK bukan semata untuk menutupi kekurangan Jokowi. Tetapi, tujuannya menepis  sentimen negatif dari kalangan Islam. Karena, Jokowi sudah mendapatkan ‘stempel’ negatif, yaitu menjadi alat kepentingan ‘Salibis, Asing dan A Seng’. Tidak ada yang lain. Semua kalangan Islam sudah memiliki sikap ‘fear’ terhadap Jokowi, kecuali Cak Imin, yang sudah menjual diri kepada PDIP dan Jokowi.

JK seorang Muslim, kelahiran Makassar, beristerikan Mufidah,  kelahiran Padang. Dua komunitas Muslim besar di Indonesia. JK menjadi Ketua Palang Merah Indonesia, Ketua Dewan Masjid Indonesia. Pernah menjadi menjadi pengurus KAHMI (Keluarga Alumni HMI). JK memiliki hubungan yang luas dari kalangan Islam. JK dari keluarga yang berafiliasi kepada NU. Jadi semua itu dapat menutupi kekurangan Jokowi.

Ibaratnya, dengan digandengnya JK oleh Jokowi itu, seperti memberikan kerudung kepada “Banteng” dengan kubah masjid, atau menjadikan masjid sebagai kandang Banteng. Ini semua merupakan langkah terselubung yang dilakukan oleh Mega, Jokowi, dan orang-orang yang ada dibelakangnya yang memilih JK hanya ingin mengelebahui kalangan Muslim.

Sejatinya, terpilihnya JK itu, hanyalah menunjukkan kemenangan kelompok lobbi Sofyan Wanandi (Liem Bian Kie), seorang Cina kelahiran Padang.  Sekarang menjadi Ketua Apindo (Assosiasi Pedagang Indonesia). Sofyan Wanandi pendiri lembaga kajian CSIS, yang menjadi ‘think-thank’ Orde Baru, dan didukung oleh Pater Beek, seorang tokoh Katolik Ordo Jesuit.

JK pula yang menjadikan tokoh Mari Elka Pangestu yang pernah menjadi Direktur CSIS menjadi menteri industri dan perdagangan. Sehingga, Indonesia kebanjiran barang import dari Cina.

Jadi JK yang sekarang sudah berusia 72 tahun, dan bersikap naif dengn menerima dijadikan  wakilnya Jokowi, sangat tidak masuk akal. JK sudah pernah menduduki jabatan tertinggi di negeri ini, sebagai wapres. Jokowi masih relatif muda, hanya pernah menjadi walikota dan gubernur, yang belum seumur jagung. Bagaimana JK bisa menerimanya?

JK juga berjasa dikalangan pengusaha Cina, dan semua hubungan dengan Sofyan Wanandi terus berjalan. Usai pemilu presiden 2009, dan JK kalah.  Kemudian JK dan keluarga, disertai oleh Sofyan Wanandi beristirahat di Eropa.

Menurut berbagai sumber Sofyan Wanandi yang dekat JK itu, juga memiliki lobbi dikalangan pengusaha Yahudi Eropa. Sebuah skenario yang sangat cerdik. Bagaimana Jokowi dapat diterima dikalangan Muslim, hanya dengan memasang JK. Bahkan, JK juga mendapatkan penghargaan dari media katolik Kompas, dan tidak pernah berhenti mempromosikan JK,  dan memberikan dukungannya.

Apalagi, JK sudah mempunyai hubungan yang lama dengan Mega, sejak menjabat  sebagai Menko Kesra. Sebuah permainan politik (power game), yang dimainkan dengan baik, dan tujuannya menguasai Indonesia dengan menggunakan tokoh-tokoh lokal. Wallahu’alam. [mashadi/voa-islam.com]

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/opini/2014/05/20/30489/mengapa-jokowi-menjadi-common-enemy-partaipartai-politik/#sthash.D4niuKii.dpuf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s